Minggu, 17 Juni 2012

Beban Balita Terhadap Negara







Beban Balita Terhadap Negara

Sungguh ironis ketika seorang balita yang belum lahir hingga keluara dari rahim seorang ibunya, harus menanggung pajak terhadap Negara. Lalu untuk apa dan berapa nilainya uang pajak selama ini.? Beberapa pekan terakhir ini, kita selalu disuguhi informasi tentang ketidak jelasan pembangunan proyek yang hanya menjadi rebutan para politisi. Namun, ketika persoalan itu muncul karena beredarnya kabar korupsi didalam suatu proyek dan tak kunjung rampung penyelsaiannya, lalu mana jatah bagi seorang balita yang menderita suatu penyakit dan membutuhkan saluran dana yang betu besar. Kekuatan ekonomi kedua orang tua yang hanya mendapatkan gaji jauh dari setandart Upah Minimum Regional (UMR).
Coba kita merenung sejenak tentang beban balita tehadap Negara. Untuk mendapatkan kabar tentang kehamilan,  calon seorang ibu muda terpaksa harus memeriksakan kandungannya kepada seorang Bidan Delima. Logikanya, untuk membuka praktek umum dalam ilmu kebidanan, seorang bidan harus mengurus ijin maupun prosedur prosedur yang ada, hal tersebut juga tidak lepas dari penyisihan pajak sorang bidan. Apalagi untuk membuka praktek umum dalam ilmu kedokteran, sudah barang tentu prosedurnya harus menyiapkan uang yang begitu banyak.
Terus Kembali lagi terhadap ibu muda yang ingin memeriksakan kandungannya. Dalam satu bulan kadang, ibu hamil satu sampai dua kali  ia harus memeriksakan kandungan untuk melihat kabar kondisi balitanya. Setiap pemeriksaan berfareasi pembayarnnya, jika ekonomi menengah kebawah tentu saja tidak jauh dari penglihatan kita yaitu Bidan Delima, satu pemeriksaan mungkin sakitar Rp 20.000 sampai Rp. 30.000 tergolong, lokasinya. Karena untuk menentukan tarif, hingga saat ini juga belum ada regulasi yang mengaturnya.
Seperti yang dialami banyak kaum ibu ibu di Indonesia yang sedang hamil muda, secara pasti mereka akan melakukan pemeriksaan kandungannya kepada Bidan terdekat. Dengan pemeriksaan itu, setidaknya mereka akan mendengan kabar tentang keadaan balita yang di harapkan.
Jika satu bulan dua kali pemeriksaan kandungan ibu hamil, maka terhitunglah dua kali sembilan bulan. Ditambah lagi, asupan susu segar untuk menyehatkan kondisi ibu hamil, tidak hanya itu, apabila perawatan selanjutnya untuk pendewasaan seorang balita. Sudah barang tentu kalo kita bandingkan dengan harta, tidak akan ada apa apanya asalkan balita yang kita  dambakan sehat walafiat. Subhanallah, Allah Swt lah yang hanya mempunyai kekuasaan didunia maupun diakhirat nanti.
Dengan demikian, artinya seorang balita yang belum keluara dari rahim seorang ibunya hingga lahir, balita di Indonesia sudah terbebani pajak Negara. Lantas apa tanggung jawab Negara terhadap generasi bangsa kita yang sedang mengalami gangguan kesehatan terhadap tubuhnya. Sedangkan kekuatan ekonomi dari seorang tua balita yang tidak mampu membiyayai pengobatan balitalitanya karena nilai gaji yang ia dapatkan hanya cukup untuk dibuat makan sehari saja.
Kisah itu kini dialami oleh seorang warga di Desa Kmbangbilo, Kecamatan Kota, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Pasangan suami istri (PASUTRI), masing masing bernama wiji wahyudi (30)  tahun dan ita (22) tahun itu dilanda kecemasan untuk mengasuh anaknya yang baru berusia tujuh (7) bulan.  Balita berjenis kelamin laki laki tersebut oleh medis ditetapkan sebagai penderita penyakit hydrocephalus. Menurut temuan ilmu kedokteran bahwa hydrocephalus adalah akumulasi abnormal cairan cerebrospinal didalam otak. Cairan ini sering meningkatkan tekanan sehingga dapat memeras dan merusak otak.
Balita yang diberi nama achmad mansyur tersebut, hanya bisa menangis karena menahan rasa sakit yang dideritanya. sementara keterbatasan ekonomi membuat pengobatan acmad mansur terhambat, orang tua mansur yang hanya berprofesi sebagai penyadap buah siwalan, tak mampu memberikan pengobatan lebih bagi anak kesayangan itu, akibatnya kini kepala mansyur kian parah dan terus membesar. “seluruh harta benda ia jual untuk membiayai proses pengobatan anaknya itu, terutama selama tinggal di rumah sakit. bahkan terhitung sudah dua kali, ia menjalani operasi dan itupun melalui fasilitas jamkesmas di rumah sakit umum dokter soetomo surabaya. Namun sayang usai operasi, kepala anaknya itu kembali membesar.
selain berharap mendapatkan lagi jamkesmas, keluarga juga berharap ada uluran tangan dari para dermawan untuk membantu meringankan beban penderitaan anaknya itu.
Mengutip dari kisah tersebut, kemungkinan terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Jika kita berbicara kesejahteraan rakyat maka, masyarakat Indonesia masih jauh untuk merasakan kesejahteraan itu. Meski negara kita kaya dengan sumberdaya alamnya namun, sebagai rakyat menengah kebawah hanya bisa menjadi penonton dengan meneriakkan kemerdekaan. Tetapi jati diri bangsa yang selama ini di gembar gemborkan oleh bapak Suekarno yang merupakan presiden RI pertama, bahwa bangsa kita harus menjadi bangsa yang Dedikari (Kemandirian), tidak berjalan akibat ulah manusia rakus akan kekuasaan dan kepentingan semata.
Industrialisasi menjamur di Indonsia, itu hanya milik para kapitalis tertentu. Pada hal Jika kita hitung jumlah orang lulusan akademisi di Indonesia tidak sedikit, tetapi kenapa dalam mengolah SDA yang kita miliki harus mengambil orang orang dari negara lain. Berbagai persoalan perindustrian yang tidak memberikan tanggung jawabnya terhadap warga sekitar, hal itu realita dan nyata. Bahkan warga sekitar sengaja dibodohkan, dengan sikap sikap industri yang keji karena tidak adanya keterbukaan informasi.
perang persaudaraan juga menjadi tontonan setiap hari di negeri, mulai dari perang proyek, perang pendidikan, perang pendidikan, kesehatan, keagamaan hingga perang santet. Pengniyaan terhadap kaum wanita hingga balita sering kita jumpai di media. Seorang balita disiksa orang tuanya, seorang balita ditinggal begitu saja, balita di telantarkan dan dibuang kemana mana itu terjadi. Sampai kapankah negeri ini harus ada perdamain dan kesejahteraan yang sesungguhnya. Janganlah engkau bilang bahwa Negera ini negara berkembang, tetapi katakankah Negara yang terpuruk jika terpuruk, sehingga pemerintahan selaku pengambil kebijakan tegas dalam mengambil sikap.
Ataukah mereka pengemban amanat bangsa malu jika negara tercintanya itu dibilang terpuruk akibat sistemperekonomiannya yang semrawut. Jika anda tegas dalam sikap maka ucapkanlah Negara terpuruk, atau memang negara kita maju bilang maju, jangan setengah setengah bilang Negara berkembang. Pertanyaannya sampai kapan perkembangan itu kita rasakan, sedangkan hasil apa saja yang kita dapatkan.
Mengutip cerita fenomena yang ada, maka calon calon generasi bangsa seperti balita sangatlah membutuhkan perhatian dari pemangku bangsa. Penataan itu, jika tidak kita awali dari sekarang maka kapan lagi.
Sedangkan dengan cara apa kita memberikan perhatian khusus terhadapa calon calon generasi bangsa itu, yang jelas berikanlah alokasi khusus untuk membina dan mengawasinya. (bersambung)

1 komentar:

  1. Indonesia gitu loh....
    rakyat miskin harus bayar pajak setelah ngumpul maka akan dikorupsi oleh tikus berdasi...

    BalasHapus